Awalnya saya tidak tahu kalau buku ini ber-genre distopia, tampak normal-normal aja. Penulis menggambarkan Asrama Hailsham terasa begitu tenang, menyenangkan, para siswa 'harus' sehat dan terpelajar, Hailsham tidak tersentuh hiruk pikuk kota besar. Apalagi penulis menceritakan kehangatan persabahatan dan cinta segitiga antara Kathy, Tommy, dan Ruth. Bermain dan belajar bersama, semua tampak baik-baik saja.
Suasana distopia dalam buku ini akan muncul perlahan, konflik dimulai pada bab pertengahan ketika penulis membeberkan fakta bahwa seluruh siswa Hailsham termasuk tiga tokoh utama sebenarnya manusia klonning yang hidupnya sudah ditentukan bahkan sebelum menua, mereka harus mendononasikan organ vital, takdir mereka sudah ditentukan, nasibnya sudah diciptakan. Berkali-kali saya dibuat merinding ketika membaca buku ini. Sungguh manusia-manusia malang!
Hal yang membuat buku ini membekas karena sudut pandang cerita berasal dari memori Kathy ketika mengenang masa lalunya di Hailsham dan kebersamaan dengan kawan-kawannya yang sudah terlebih dulu tiada. Membuat pembaca merasakan kegamangan dan kesedihan tokoh utama yang menyesakan.
Secara garis besar, novel ini berbicara tentang takdir, cinta dan mimpi yang dikemas apik dalam balutan distopia, letak kegetiran dalam buku ini bukan berasal dari tema klonning manusia dan donor organ, melainkan dari sudut pandang setiap tokoh yang merasa hidup mereka baik-baik saja, padahal tidak sama sekali.
Novel yang pernah menerima penghargaan Booker Prize pada tahun 2005, Arthur C. Clarke 2007 (dan penghargaan lainnya) sangat layak dibaca setidaknya sekali seumur hidup.
Komentar
Posting Komentar