Awalnya saya tidak tahu kalau buku ini ber-genre distopia, tampak normal-normal aja. Penulis menggambarkan Asrama Hailsham terasa begitu tenang, menyenangkan, para siswa 'harus' sehat dan terpelajar, Hailsham tidak tersentuh hiruk pikuk kota besar. Apalagi penulis menceritakan kehangatan persabahatan dan cinta segitiga antara Kathy, Tommy, dan Ruth. Bermain dan belajar bersama, semua tampak baik-baik saja. Suasana distopia dalam buku ini akan muncul perlahan, konflik dimulai pada bab pertengahan ketika penulis membeberkan fakta bahwa seluruh siswa Hailsham termasuk tiga tokoh utama sebenarnya manusia klonning yang hidupnya sudah ditentukan bahkan sebelum menua, mereka harus mendononasikan organ vital, takdir mereka sudah ditentukan, nasibnya sudah diciptakan. Berkali-kali saya dibuat merinding ketika membaca buku ini. Sungguh manusia-manusia malang! Hal yang membuat buku ini membekas karena sudut pandang cerita berasal dari memori Kathy ketika mengenang masa lal...